1. BANDUNG
  2. HALO BANDUNG

Kasus DBD di Bandung meningkat 5 orang meninggal dunia

Pasien DBD meninggal dunia akibat penyakit itu dilaporkan mengalami grade dua sampai tiga.

Ilustrasi pasien DBD. ©2016 Merdeka.com Reporter : Dian Rosadi | Sabtu, 13 Februari 2016 16:41

Merdeka.com, Bandung - Jumlah kasus DBD (Demam Berdarah Dengue) di Kota Bandung mengalami peningkatan. Sejak awal 2016 hingga Februari ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung mencatat  ada 555 Kasus DBD, dimana lima orang diantaranya meninggal dunia. Jumlah ini meningkat dari bulan Januari sebelumnya yakni 300 kasus DBD, dimana satu orang diantaranya meninggal dunia.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Susatyo Triwolopo mengatakan peningkatan jumlah kasus DBD diketahui dari laporan dari setiap rumah sakit di Kota Bandung. Namun dirinya menyayangkan, lambatnya proses pelaporan dari rumah sakit ke dinas kesehatan.

"Kami kan sudah punya SOP-nya, enam jam setelah  diagnosa, paling lambat enam jam sudah melaporkan ke dinas kesehatan. Tapi ini tak berjalan seperti yang diharapkan. Ada rumah sakit yang sudah beberapa hari baru melaporkan, sehingga penindakan di lapangan agak terlambat," ujar Susatyo saat dihubungi, Sabtu (13/2).

Dia menuturkan, bila sistem pelaporan data itu berjalan maksimal, pihak puskesmas bisa langsung menindaklanjuti laporan dari rumah sakit. Sehingga puskesmas bisa melakukan penanganan untuk menindaklanjuti temuan kasus DBD.

Susatyo mengungkapkan, dari lima minggu terakhir, proses otopsi verbal juga telah dilakukan terhadap beberapa pasien DBD. Hal itu dilakukan untuk mengetahui grade DBD dari masing-masing pasien.

"Grade satu DBD itu hanya mencakup demam dengue, gejalanya pasien mengalami demam dan ngilu pada persendian. Namun tak ditemukan pendarahan. Untuk grade dua, selain mengalami demam, gejala pendarahan, mimisan, dan bintik-bintik merah ditemukan dalam tubuh pasien. Sementara untuk grade tiga atau dengue shock syndrom (DSS), biasanya pasien langsung dilarikan ke ICU,"katanya .

Susatyo menjelaskan, dari 555 pasien DBD, yang meninggal dunia akibat penyakit itu dilaporkan mengalami grade dua sampai tiga. Untuk itu lanjut dia, proses diagnosa harus dilakukan secara baik, karena bila diagnosa di awal kurang baik dapat mengakibatkan resiko berlebih pada pasien.

Terkait sebaran wilayah endemik DBD, Susatyo mengaku belum bisa memaparkan lebih jauh. Namun dari pengamatannya sejauh ini, setidaknya ada 10 siswa sekolah di Antapani yang terkena penyakit tersebut.

"Khusus untuk lima korban meninggal dunia, penderitanya tercatat dari berbagai kalangan usia. Mulai dari usia dua bulan hingga dewasa.

Susatyo mengimbau masyarakat untuk selalu menjaga lingkungannya dengan  membersihkan tempat-tempat yang dapat menampung genangan air. Pasalnya bisa dipastikan genangan-genangan air tersebut menjadi sarang nyamuk untuk berkembang biak.

"Jadi perlu ada kesadaran masyarakat untuk mencegah mata rantai penyakit ini, terutama dalam memelihara kondisi lingkungannya," pungkasnya.

(FF/DR)
  1. Info Kesehatan
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA