1. BANDUNG
  2. HALO BANDUNG

Dinyatakan aktif, Peneliti ITB ingatkan potensi gempa dari Sesar Lembang

"Ada beberapa literatur yang menyebutkan bahwa disebut aktif apabila dalam 10 ribu tahun terakhir itu memiliki bukti pergeseran".

Irwan Meilano. ©2018 Merdeka.com Reporter : Dian Rosadi | Jum'at, 05 Oktober 2018 09:51

Merdeka.com, Bandung - Rangkaian gempa yang terjadi di Lombok dan Palu sepatutnya mengingatkan masyarakat untuk selalu mewaspadai ancaman potensi gempa yang terjadi di wilayahnya. Wilayah Bandung sebagai ibu kota Provinsi Jawa Barat nyatanya menyimpan potensi gempa dengan adanya Sesar Lembang.

Sesar Lembang ini membentang di wilayah Utara cekungan Bandung, mulai dari Padalarang hingga kawasan Gunung Manglayang. Sesar Lembang membentang sepajang kurang lebih 29 km.

Peneliti gempa sekaligus dosen dari Kelompok Keahlian Geodesi, Institut Teknologi Bandung (ITB), Irwan Meilano mengatakan, bahwa Sesar Lembang merupakan Sesar aktif. Hal ini bisa dilihat dari hasil riset para peneliti yang menyatakan bahwa adanya pergerakan patahan dalam kurun waktu 10 ribu tahun terakhir.

"Ada beberapa literatur yang menyebutkan bahwa disebut aktif apabila dalam 10 ribu tahun terakhir itu memiliki bukti pergeseran. Itu baru dikatakan Sesar aktif. Tapi ada beberapa pendekatan ada yang mengatakan 10 ribu, 40 ribu tahun, ada yang 100 ribu. Jadi kalau dalam rentang paling tidak kita menggunakan yang paling sederhana, kalau dalam rentang 10 ribu tahun terakhir pernah terjadi gempa dalam bidang Sesar tersebut itu aktif," ujar Irwan kepada Merdeka Bandung saat ditemui di Kampus ITB, Kamis (4/10).

Menurut Irwan, salah satu bukti nyata yang menandakan Sesar lembang adalah sesar aktif yakni terjadinya gempa bumi yang terjadi pada 2011 lalu. Gempa bumi berkekuatan 3,3 pada Skala Richter yang terjadi di Kampung Muril Rahayu, Kabupaten Bandung Barat itu menyebabkan kerusakan bangunan milik warga. Dalam peristiwa tersebut ratusan rumah warga mengalami kerusakan akibat adanya pergerakan di Sesar Lembang.

"Pada tahun 2011 itu pernah terjadi gempa. Gempa yang kemudian merusak, karena beberapa rumah mengalami kerusakan. Itu di Kampung Muril. Skala gempanya tidak besar hanya 3,3 tapi gempanya ternyata cukup banyak tapi skalanya kecil-kecil," kata dia.

Irwan menyebut Sesar lembang juga pernah mengalami gempa yang cukup besar. Hal ini terungkap dari penelitian yang dilakukan oleh LIPI lewat Pusat Penelitian Geoteknologi. Dari hasil penelitian salah satu penelitinya Dr. Mudrik Rahmawan Daryono, gempa besar pernah terjadi sekitar 500 tahun yang lalu.

"Yang besar itu menurut Pak Mudrik terjadi 500 tahun lalu. Kemudian ada beberapa yang medium dan besar lagi," ucapnya.

Irwan mengungkapkan, para pakar pun telah sepakat bahwa Sesar Lembang merupakan salah satu Sesar aktif. Hal berdasarkan hasil riset dari para peneliti di berbagai instansi yang tertuang dalam buku pusat studi gempa nasional.

"Saya yakin semua pakar sekarang sepakat dan kan itu bukan produk riset dari ITB saja. Itu sudah menjadi standar nasional malah sudah ada dalam sebuah buku pusat studi gempa nasional di mana dalam tulisan tersebut disebutkan bahwa memang Sesar Lembang adalah sesar aktif dan tulisan itu pun dibuat bersama bukan hanya produk riset kami tetapi komitmen dari berbagai institusi ada Kementerian Pekerjaan Umum, ada LIPI, badan geologi, BMKG termasuk disana ada BNPB ada perguruan tinggi ITB, UGM," kata dia.

Irwan menyebut bahwa Sesar Lembang sendiri merupakan sebuah bidang pertemuan tektonik yang pernah mengalani dislokasi pergeseran di masa lalu. Dengan adanya rentetan peristiwa gempa yang terjadi, termasuk paling terbaru terjadi di tahun 2011 lalu sudah membuktikan bahwa Sesar Lembang termasuk Sesar aktif.

"Itu paling tidak report yang kami dapatkan. Kami pun setelah kejadian sempat survei juga kesana dan kami melihat memang kalau laporan BPBD itu sekitar 100 rumah yang rusak. Bahwa gempanya sangat dekat dengan lokasi. Ketika gempanya sangat dekat walaupun magnitudenya kecil, guncangannya cukup signifikan untuk area yang tidak terlalu luas. Walapun areanya tidak terlalu luas tapi ketika pemukimannya padat maka jadinya cukup banyak rumah yang terdampak. Selain itu ada juga faktor pilihan kualitas rumah mungkin itu menjadi efek penyebab bahwa gempa yang tidak terlalu besar pun bisa merusak," katanya.

(ES/DR)
  1. Ahli Gempa
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA