Selembar surat kuno harganya bisa ratusan juta

Murwidi menunjukkan koleksi kartu pos tua
Bandung.merdeka.com - Surat atau arsip kini menjadi barang antik yang menarik untuk dikoleksi. Sebagaimana benda antik umumnya, harga surat-surat kuno tidak rasional. Ada surat yang dibanderol puluhan ribu hingga ratusan juta.
Murwidi salah satu kolektor arsip di Bandung mengungkapkan, harga surat-surat kuno di Indonesia memang belum mencapai ratusan juta. Berbeda dengan di luar negeri yang pengarsipannya lebih rapi serta peminatnya tinggi. Hal itu berdampak pada harga yang juga tinggi.
“Di luar negeri harga surat tak nalar, bisa puluhan sampai ratusan juta. Kalau di kita belum sampai segitu. Surat punya saya saja paling mahal dua juta,” kata Murwidi yang mulai mengoleksi benda-benda pos sejak SMP tahun 1977, kepada Merdeka Bandung, Minggu (6/3).
Koleksi surat tua
© 2016 merdeka.com/Iman Herdiana
Menurutnya, harga tersebut untuk sampul surat berikut perangkonnya. Belum lagi jika surat tersebut masih utuh, lengkap dengan isinya yang harganya bisa lebih mahal lagi.
Di Indonesia, kata pria yang tinggal di Dago (Ir H. Djuanda) ini, memang koleksi surat-menyurat masih jarang. Sehingga masih jarang jual beli surat untuk koleksi. Berbeda dengan di luar negeri yang memiliki acara lelang arsip atau surat.
“Peminat surat-surat tua sangat dipengaruhi pasar. Jika peminatnya banyak, harganya bisa tinggi. Kita tidak bisa mematok harga seperti jualan,” kata pria yang awalnya hobi filateli ini.
Koleksi surat tua
© 2016 merdeka.com/Iman Herdiana
Murwidi mulai mengoleksi surat-menyurat dari hobinya sebagai filatelis. Awalnya, ia khusus mencari prangko. Begitu mendapat surat tua, ia ambil prangkonya saja. Namun setelah dipikir-pikir, mengoleksi prangko berikut amplopnya ternyata menarik.
Sejak itu ia pun mulai berburu surat-surat. Ia mengoleksi surat tahun 1883 yang masih ditulis dengan bahasa campuran melayu, daerah, Belanda, bahkan ada bahasa Sansekertanya. Surat tersebut dicap kantor pos di bawah pengawasan Pemerintah Belanda.
“Pemerintah Kolonial Belanda waktu itu sudah memakai bahasa lokal. Orang yang menulis surat kebanyakan kalangan ningrat atau keraton,” ujarnya.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak