Demi perpustakaan, pria ini jelajah Jawa Barat

Farhamsyah
Bandung.merdeka.com - Perpustakaan terutama yang dikelola pemerintah selama ini dikenal sebagai tempat membaca yang kaku, membosankan dengan petugasnya yang jutek. Sehingga tidak heran jumlah pengunjung perpustakaan disebutkan selalu menurun.
 âHarus ada perubahan paradigma dalam mengelola perpustakaan. Program perpustakaan tidak hanya membaca, tapi juga harus membuat kegiatan bersama dengan masyarakat,â kata fasilitator perpustakaan dari Program Perpustakaan Seru, Farhamsyah, saat berbincang dengan Merdeka Bandung, Minggu (29/8).
Perpustakaan Seru merupakan program yang dikelola Coca-cola Foundation. Tugas Farhamsyah adalah memfasilitasi atau memberikan konsultasi kepada perpustakaan-perpustakaan daerah di Jawa Barat.
Target Perpustakaan Seru, jelas Farhamsyah, adalah membuat perpustakaan membaur dengan masyarakat. Perpustakaan dengan paradigma baru ini tidak berjarak dengan masyarakat.
 âJadi perpustakaan bukan hanya jadi tempat baca, tapi menjadi tempat perubahan taraf atau kualitas hidup masyarakat di sekitarnya,â terang pria kelahiran Bandung 21 tahun lalu.
Farhamsyah sudah memberikan konsultasi kepada sejumlah perpustakaan daerah di Jawa Barat, antara lain Cirebon, Kuningan, Majalengka. Di perpustakaan Cirebon, perpustakaan daerah terlibat dalam pembuatan abon ikan.
Di sela kegiatan kemasyarakatan, kata dia, perpustakaan bisa memberikan program pentingnya membaca. Ada juga perpustakaan yang bekerja sama dengan Puskesmas setempat untuk untuk menggelar program pengobatan gratis dan kesehatan lingkungan bersamaan dengan program pemberantasan buta huruf.
âDengan cara itu perpustakaan bisa mengubah masyarakat. Perpustakaan tidak bisa mengeluh mintat baca menurun, jumlah kunjungan kurang, tapi bagaimana aksinya,â katanya.
Ada sejumlah parameter yang menjadi sasaran Perpustakaan Seru, yakni meningkatan kualitas masyarakat dari sisi pendidikan, kesehatan dan ekonomi.âParameter ini akan mengubah image perpustakaan yang kaku,â katanya.
Farhamsyah mulai menjadi fasilitator sejak aktif di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Soreang, Kabupaten Bandung yang berdiri sejak 2009. Saat ini ia sebagai Ketua Harian TBM yang memiliki koleksi 6 ribu buku yang sudah didigitalisasi dengan anggota 200 orang.
Â
Alumnus Akademi Bahasa Asing Internasional Bandung ini menyebutkan, sebelumnya TBM Soreang memiliki 15 ribu koleksi buku dan 2 ribu anggota. Sejak kerja sama dengan Fikom Unpad, TBM tersebut mengalami penataan ulang, salah satunya digitalisasi dan pendataan ulang anggota.
TBM Soreang kemudian berhasil membuka jaringan dengan kampus maupun donator. Farhamsyah kemudian dipercaya sebagai fasilitator sejumlah perpustakaan daerah di Jawa Barat.
Namun perubahan paradigma perpustakaan akan kembali ke kepala perpustakaannya sendiri. âMau tidak kepala perpustakaannya berubah. Selain itu selama ini kan perpustakaan terkendala anggaran,â katanya.
Tag Terkait
Nuning, Dosen FSRD ITB Mengajak Lebih Paham Soal Mitos Dan Mitologi Indonesia
Berkat Ketekunan, Utami Sukses Geluti bisnis EO Sejak Tahun 2000
Natasha Youtuber Cilik Terkenal Karena Review Mainan Squishy dan Slime
Bedak bayi jadi barang wajib bagi Abex saat mendaki gunung
David sebagai office boy ini berhasil mencuri perhatian khususnya kaum hawa
Kelly Purwanto akui tato merupakan seni merajah tubuh supaya indah
Jurnalis Merdeka.com juara dua karya jurnalistik yang digelar Pemkot Bandung
Khoiruddin, doktor tercepat dari ITB dengan 36 publikasi scopus
Mengenal sosok Yan Yan Sunarya, 'Doktor Batik Sunda' pertama di dunia dari ITB
Kecewa aspirasi viking tak terwujud, Heru Joko 'nyaleg' dari Partai Nasdem