Tak pantang menyerah, guru-guru muda ini pilih mengabdi di rumah autis

Oleh Farah Fuadona pada 02 Mei 2016, 15:50 WIB

Bandung.merdeka.com - Pendidikan adalah hak semua anak begitu juga dengan anak berkebutuhan khusus. Namun mengajar anak-anak berkebutuhan khusus tidaklah mudah. Perlu kesabaran yang besar dan kecintaan yang tulus.

Tantangan mengajar anak berkebutuhan khusus dijalani dua guru muda dari Rumah Autis Bandung, yakni Mira Fauzi dan Tiazela. Mira adalah alumnus jurusan Biologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Sedangkan Tiazela adalah mahasiswi Pendidikan Luar Biasa (PLB) Universitas Islam Nusantara (Uninus) Bandung.

Mira mengaku tertarik mengajar anak-anak autis kebetulan saja, "Awalnya tertarik sama anak-anak. Terus nyemplung mengajar sampai sekarang," kata dia saat berbincang dengan Merdeka Bandung.

Meski background pendidikan biologi, namun Mira tidak mempermasalahkan "penyimpangan" jurusannya. Sebagai alumnus kampus pendidikan, ia merasa kiprahnya di Rumah Autis sudah sejalan.

Bahkan ia mengaku nyaman mengajar meski besaran honor yang diterimanya tidak terlalu besar. "Memang tidak mudah, tapi kalau ngajarnya pakai hati kita nyaman," ujar perempuan berkerudung ini.

Momen Hari Pendidikan Nasional diharapkan menjadi titik kebangkitan bagi pendidikan nasional, mulai dari kesejahteraan guru, pendidikan yang ramah anak terutama pendidikan yang memberikan kesempatan sama terhadap anak-anak berkebutuhan khusus lainnya.

Mira berharap pandangan masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus, khususnya anak autis makin positif. Selama ini anak-anak autis dipandang sebelah mata bahkan keberadaannya sering ditutup-tutupi orangtua.

"Kita ingin semua orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus tak usah malu. Mereka juga bisa sekolah, bermain dan mandiri," ujarnya.

Tak sedikit dari mereka memiliki prestasi yang membanggakan, seperti tujuh anak berkubutuhan khusus dari Rumah Autis. Mereka mendapat kesempatan mengikuti acara Peringatan Konferensi Asia Afrika pertengahan April lalu. Mereka mampu berbaris dan mengikuti arahan instuktur bersama 40 anak autis lainnya.

"Dengan turun ke jalan harapan kita ingin sosialisasikan anak autis atau kebutuhan khusus dilihat masyarakat bahkan mereka sebenarnya sama dengan anak normal lainnya tak usah takut dan tidak usah dibeda-bedakan," katanya.

Sementara Tiazela menambahkan, untuk mengajar anak autis tidak harus selalu lulusan universitas, mahasiswa atau profesi lain yang menyukai anak-anak bisa mengajar di Rumah Autis.

"Wartawan pun kalau mau mengajar boleh, di rumah autis pengajar yang penting ada keinginan dan mau," kata perempuan 28 tahun ini.

Ketulusan memang menjadi kunci utama untuk bisa mengajar anak-anak berkebutuhan khusus. Saat ini, jumlah murid di Rumah Autis sebanyak 50 anak, sebagian besar dari mereka berasal dari kalangan tidak mampu.

Tia menyebutkan, porsi penerimaan murid di Rumah Autis 60 persen bayar 40 persen beasiswa."Nyatanya 80 persen murid kita dari yang kurang mampu. Hanya 10 persen yangg bayar sepenuhnya. Pendanaan kita mengandalkan donatur," ujar dia.

Bagi masyarakat Bandung yang ingin menyekolahkan anak berkebutuhan khusus bisa menghubungi Rumah Autis di bawah Yayasan Cahaya Keluarga Fitrah, daerah Cibeunying,Kolot, Bandung. Atau menghubungi nomor telepon 022-2517858.

"Tinggal bawa saja dan tinggal masuk," kata Tia.