Rani, model yang mau terjun sebagai volunteer di lapas
Rani sebagai sukarelawan
Bandung.merdeka.com - Secara fisik, terbilang sempurna. Putih, tinggi, dan cantik. Semua wanita dijamin sirik dengan fisiknya, dan pria pun akan terkesima olehnya. Tak hanya itu, ia juga pintar dan berjiwa sosial tinggi.
Perempuan cantik itu adalah Meirani Utami Dewi. Ia tengah sibuk menggeluti profesi sebagai model, menyelesaikan program studi pasca sarjana, juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Parasnya yang rupawan tak pernah membuatnya tinggi hati. Ia justru dikenal berkepribadian sederhana.
Belakangan, perempuan berhijab itu tengah sibuk sebagai volunteer untuk acara di lembaga pemasyarakatan (lapas). Saat di lapas ia kerap memberikan berbagai pelatihan. Kegiatan sosial itu intens dilakukan sejak kedua anaknya sudah mulai besar.
"Baru dua tahun ini intens dengan kegiatan sosial. Kalau dulu susah karena anak masih pada kecil. Sekarang sudah mulai besar jadi bisa sedikit sibuk dengan kegiatan sosial," ujar perempuan kelahiran Cirebon, 11 Mei 1983 itu kepada Merdeka.com, Senin (30/11) lalu.
Dalam kariernya sebagai model berhijab, Rani sempat pergi ke Maroko menjalani sesi foto untuk sebuah buku fesyen dari seorang desainer ternama. Sementara untuk kegiatan sosial, ia bersama saudara sempat membuat kelompok belajar yakni Sakola Alit.
"Aku dulu sama sepupu buat kelompok belajar namanya Sakola Alit di bandung. Seminggu sekali belajarnya, aku tujukan untuk tetangga. Mereka yang tinggal di belakang komplek, mau itu anak buruh cuci atau pembantu yang ikut. Sepupu aku sekarang pindah ke Jakarta jadi kita belum jalan lagi," jelasnya.
Di samping melakukan kegiatan sosial, ia juga kini tengah sibuk menjadi Marketing Communication Butterfield Kitchen. Sebuah tempat makan di bilangan Dipatiukur yang juga merupakan tempat usaha milik keluarganya.
"Aku suka dengan kegiatan yang berkaitan dengan serving people. Makanya di Butterfield Kitchen ini aku ambil peran sebagai marcomm. Bagiku bisa bertemu dengan orang baru dan "men-service" orang lain adalah hal menyenangkan," tutupnya.
Tag Terkait
Khoiruddin, doktor tercepat dari ITB dengan 36 publikasi scopus
Keren! mahasiswa ITB ciptakan smart CCTV yang bisa kenali wajah penyusup
Brotherhood Til Jannah dan kisah mantan anggota geng motor hijrah di Bandung
Kampung toleransi ini jadi bukti keharmonisan antar umat beragama di Bandung
Keren! Jam bambu bikinan Indonesia Bamboo Community tembus hingga ke Brazil
Lelah jadi karyawan, Bobby keluar dan sukses bisnis laundry sepatu
Belajar dari Imat, pria difabel sukses budidayakan daung bawang
Kisah inspiratif para mantan napi rintis usaha di Bandung
Kisah kakek Roi tetap semangat berjualan bajigur di usia 84 tahun
Pesan kakek penjual balon ini menyentuh banget