Kronologi peristiwa Bandung Lautan Api 24 Maret 1946

Oleh Farah Fuadona pada 23 Maret 2016, 10:46 WIB

Bandung.merdeka.com - Menyikapi ultimatum kedua Inggris pada 17 Maret 1946, rapat para petinggi Tentara Republik Indonesia (kini TNI) dan tokoh masyarakat Bandung memutuskan untuk mentaati keputusan pemerintah RI. TRI akan mundur, tapi tidak akan menyerahkan Bandung dalam keadaan utuh.

Dituturkan dalam buku Saya Pilih Mengungsi oleh tim penulis Ratnayu Sitaresmi, Aan Abdurachman, Ristadi Widodo Kinartojo, Ummy Latifah Widodo, TRI akan mengungsi bersama rakyat ke selatan Bandung sesuai ultimatum Inggris. Tetapi TRI dan pejuang juga akan melakukan bumi hangus dan gerilya melawan Inggris dan Belanda.
 
Pada 24 Maret 1946 pukul 14.00, RRI menyiarkan pengumuman bahwa semua pegawai dan rakyat harus keluar kota Bandung sebelum pukul 24.00, tentara melakukan bumi hangus terhadap semua bangunan yang ada sesudah matahari terbenam. TRI juga diperintahkan menyerang Bandung utara dan selatan.
 
Selain itu, titik pengungsian disiapkan. Keresidenan Priangan ke Garut, Walikota Bandung ke Garut, Bupati Bandung ke Banjaran, Jawatan KA ke Cisurupan (Cikajang), Jawatan PTT ke Tasikmalaya, rumah sakit ke garut dan banjaran, guru-guru dan anak-anak ke Kertasari, penjara Sukamiskin ke Jogjakarta.
 
Pembumihangusan atau “sekenario” Bandung Lautan Api akan dilakukan pukul 24.00 yang ditandai dengan satu ledakkan pertama di Gedung Regentsweg, selatan Alun-alun Bandung yaitu Gedung Indische Restaurant (sekarang Gedung BRI tower, Jalan Asia-Afrika).
 
Namun informasi yang diterima rakyat masih simpang siur. Mereka bingung antara mengungsi atau membakar rumah sendiri. “Berita pengosongan Bandung diterima secara mendadak. Ada juga desas-desus bahwa Bandung akan dibakar. Saya menerima informasi dari radio,” tutur Ruswan, salah seorang saksi yang dikutip tim penulis buku Saya Pilih Mengungsi.
 
Ruswan menambahkan, reaksi rakyat waktu itu sebenarnya patuh pada keputusan pemerintah. “Meski berat hati harus meninggalkan rumah yang sudah ditinggali sejak kecil,” katanya.
 
Ia melihat sebagian tetangganya mulai melakukan jalan kaki beriringan ke selatan Bandung. Ia tidak tahu akan ada pembakaran. Pembakaran Bandung baru ia saksikan ketika tiba di pengungsian Dayeuhkolot, Bandung Selatan.
 
Arus pengungsian paling besar terjadi pukul 17.00 setelah RT, RW dan para pejuang secara massif menyampaikan pemberitahuan kepada warga. Dari siang hingga malam pengungsi terus bergelombang, antara 100 ribu hingga 200 ribu warga Bandung meninggalkan kampung halaman.
 
Sebagian besar pengungsi bergerak dari daerah selatan rel kereta api ke arah selatan sejauh 11 kilometer (melewati Sungai Citarum) sebagaimana ultimatum Inggris.
 
Ada juga yang yang bergerak dari utara, barat dan timur. Jalan raya besar seperti Regentsweg (kini Dewi Sartika), Jalan Raya Banjaran (Muhammad Toha), Jalan Kopo, dan Jalan Buahbatu menjadi jalan utama yang digunakan pengungsi.
 
Sebagian pengungsi ada yang melalui Cigereleng, Jalan Raya Banjaran, menuju Dayeuhkolot. Dari situ para pengungsi menyebar ke Cililin, Ciparay, Majalaya, Garut, Tasik, hingga Yogyakarta, Jawa Tengah.
 
Sementara para pejuang yang bertugas membumihanguskan Bandung sudah siap dengan bahan peledak, bom molotov, minyak tanah dan bensin. Mereka bertugas meledakan gedung-gedung yang dianggap vital yang kemungkinan akan digunakan Belanda. Sedangkan rumah-rumah warga tidak harus dibakar.
 
Namun pembakaran tidak berjalan seperti yang diharapkan. Salah seorang pejuang, Endang Karmas mendapat perintah pembakaran dimulai pukul 22.00. Sementara TRI menjadwalkan peledakan pukul 24.00. Maka antara pukul 15.00 sampai 20.00, para pejuang masih melakukan persiapan.
 
Di tengah persiapan itu tiba-tiba terjadi ledakkan, padahal baru pukul 20.00. Ledakkan ini terlanjur dianggap sebagai aba-aba. Maka peledakkan dan pembakaran yang baru persiapan itu pun dimulai. Tetapi karena persiapan yang minim, banyak gedung vital akhirnya tidak bisa diledakkan.
 
Di sisi lain, rumah-rumah warga justru banyak yang dibakar secara sukarela oleh warga sendiri maupun oleh pejuang. Hal itu menimbulkan lautan api di sepanjang Jalan Buah Batu, Cicadas, Cimindi, Cibadak, Pagarsih, Gedung Luxor, Cigereleng, Jalan Sudirman.
 
Kobaran api terbesar ada di daerah Cicadas dan Tegalega, di sekitar Ciroyom, Jalan Pangeran Sumedang (Otista), Kopo, Cikudapateuh. Menurut kesaksian, pasukan dan rakyat ikut membakar gedung dan rumah karena khawatir digunakan NICA.
 
Oon Suharman menuturkan, pada pukul 23.00 Bandung benar-benar menjadi lautan Api. “Jadi banyak pertanyaan kenapa bangunan itu dibakar? Bukan membakar bangunan rakyat, tapi bangunan yang sekiranya dipakai musuh seperti gedung pemerintahan, tapi karena kekacauan waktu itu hampir semua bangunan yang dibakar,” katanya.
 
Sementara arus pengungsi berlangsung hingga malam hari. Mereka terus berjalan di tengah ketakutan atas serbuan Belanda, diiringi dentuman bom dan kobaran api.
 
Tim penulis Saya Pilih Mengungsi menyatakan, setidaknya ada tiga faktor yang membuat warga Bandung kompak mengungsi. Pertama, semangat patriotisme begitu kuat mendorong warga Bandung untuk mengungsi. Terlebih, 17 Agustus 1945 baru saja dikumandangkan. Mereka tidak mau dijajah kembali oleh bangsa asing.
 
Kedua, adanya desakan pejuang supaya rakyat ikut mundur. Tindakan ini sebagai psywar bagi Inggris dan Belanda serta dunia internasional, bahwa mayoritas warga Bandung mendukung kemerdekaan RI.
 
Ketiga, ada juga kelompok rakyat yang ikut-ikutan saja. Jika mereka bertahan di dalam kota, mereka takut oleh Belanda sekaligus takut dicap sebagai antek NICA. Terlebih saat itu, Belanda menjalankan taktik adu domba yang menimbulkan kecurigaan antar sesama rakyat.