Zaman hight tech, berkebun pun bisa lewat HP

Oleh Farah Fuadona pada 06 Maret 2016, 09:51 WIB

Bandung.merdeka.com - Di zaman serba modern masyarakat perkotaan makin berjarak dengan berkebun, apalagi sawah. Penduduk makin padat lahan untuk bercocok tanam pun makin terbatas.

Di tengah keterbatasan ruang untuk bercocok tanam. Pusat Penelitian Teknologi Informasi dan Komunikasi (PPTIK) Institut Teknologi Bandung (ITB) berusaha menyajikan inovasi berkebun inovatif.

Inovasi tersebut bernama Vertical Garden Agriculture, sebuah terobosan yang memadukan sistem berkebun dengan teknologi mobile. Vertical Garden Agriculture dipamerkan dalam Pameran Hasil Penelitian di ITB, Bandung.

M. Fadilah, mahasiswa anggota tim Vertical Garden Agriculture, menjelaskan inovasi tersebut dibuat berdasarkan kondisi masyarakat perkotaan yang sibuk dan tidak memiliki ruang untuk berkebun.

“Meski mempunyai ruang, masyarakat kota biasanya tidak punya waktu berkebun,” jelas Fadilah, kepada Merdeka Bandung, di sela pameran, Sabtu (5/3).

Vertical Garden Agriculture saat ini baru terbangun 60 persen dan masih terus disempurnakan. Penyempurnaan terutama dilakukan di bidang sensor yang menghubungkan sistem tanaman hidroponik dengan software atau aplikasi handphone berbasis Android.

Dengan sensor tersebut aplikasi di handphone akan menganalisa kondisi tanama, misalnya kekurangan air atau pupuk. Pemberian air atau pupuk bisa dilakukan dengan jarak jauh karena Vertical Garden Agriculture berkat sambungan internet.

“Jadi ini untuk orang sibuk, mengurus tanaman yang ada di rumah bisa lewat HP. Misalnya nanam selada air, jika kurang air, nutrisi, atau kadar ph-nya tinggi, diatur lewat jaringan internet yang terkoneksi di HP. Lalu di HP tinggal pilih tambahkan air maka tanam akan bertambah airnya,” papar Fadilah.

Vertical Garden Agriculture dikerjakan tim dari PPTIK ITB yang berjejaring dengan berbagai lembaga penelitian dan pendidikan di dalam dan luar negeri. Salah satu jaringan PPTIK ITB adalah Universitas Bandar Lampung (UBL).

Fadilah merupakan mahasiswa informatika UBL yang menjadi anggota tim pembuatan Vertical Garden Agriculture. Fadilah sendiri mengerjakan sensor pada Vertical Garden Agriculture. “Sekarang masih percobaan sensor, targetnya dalam dua tiga bulan sudah jadi,” katanya.

Menurutnya sasaran Vertical Garden Agriculture adalah masyarakat perkotaan seperti Jakarta dan Bandung. Tanaman yang bisa ditanam di sistem ini terutama sayuran dengan teknik hidroponik atau tanaman di yang ditanam dalam pipa PVC.

Vertical Garden Agriculture sendiri didefinisikan sebagai konsep keterpaduan antara teknik hidroponik dan teknologi yang menjadi model agrikultur modern. Konsep ini menggunakan aplikasi untuk merawat tanaman secara otomatis dengan media sebagai konsep agrikultur masa depan.

Â

Â

Tag Terkait