5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20

Oleh Endang Saputra pada 02 Agustus 2022, 17:56 WIB

Bandung.merdeka.com - Permasalahan global kini semakin kompleks. Penyelesaian masalahnya kerap melalui pengambilan kebijakan yang strategis. Salah satu kebijakan strategis yang dibutuhkan sebagai upaya ‘pulih bersama dan pulih lebih kuat’ adalah kebijakan yang mendukung transformasi digital.

Pandemi Covid-19 merupakan titik balik masyarakat dunia sadar akan pentingnya digitalisasi. Hal ini mengingat terpukulnya seluruh sektor di awal pandemi utamanya disebabkan oleh ketidaksiapan masyarakat untuk bertransformasi ke arah digitalisasi.

Prof. Suhono—Lead Co Chair TF2 T20—mengumumkan lima poin rekomendasi kebijakan yang dihasilkan oleh Task Force 2 T20. Kelima poin tersebut berasal dari 116 draft paper dan 25 dokumen policy brief yang ditulis oleh para akademia di seluruh dunia. Rencananya, kelima poin ini akan diusulkan untuk diimplementasikan kepada seluruh pemimpin negara dalam forum KTT G20 di Bali beberapa bulan kedepan.

Secara ringkas, kelima poin rekomendasi kebijakan tersebut mencakup:
Pertama, mempromosikan aksesibilitas dan keterjangkauan yang merata dalam upaya mereduksi kesenjangan digital untuk mendukung transformasi digital yang merata. Kedua, mendorong adanya kesepakatan terkait akses internet yang universal dan pemanfaatan data yang dikumpulkan oleh masyarakat untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan.

Ketiga, pengontrolan data berbasis human-centered tanpa mengorbankan sisi kebermanfaatan teknologi. Keempat, mempromosikan konsep (G2SWL) G20 Smart World Living Lab sebagai sebuah metode dalam mengatasi masalah dalam sebuah area terbatas. Kelima, mendorong negara-negara G20 untuk mengembangkan kerangka dan model smart city yang berkelanjutan.

Salah satu poin rekomendasi kebijakan yang paling ditekankan adalah usulan terkait aksesibilitas digitalisasi yang merata dan penerapan konsep Smart World Living Lab. Kesetaraan transformasi digital merupakan suatu hal yang sangat fundamental mengingat wilayah yang terdampak oleh pandemi tidak hanya wilayah perkotaan. Hal ini tentunya menyebabkan wilayah yang butuh pemulihan juga tidak hanya perkotaan namun harus meluas ke desa dan wilayah maritim.

Menurut Prof. Suhono alasan lain mengapa pemerataan digitalisasi sangat dibutuhkan adalah karena hingga saat ini masih terdapat lebih dari 12.000 desa dan lebih dari 150.000 lembaga publik, termasuk sekolah, klinik kesehatan, kantor desa, dan pusat komunitas lainnya, yang tidak memiliki akses ke jangkauan seluler 4G. Hal tersebut tentu sangat mencemaskan jika mengingat peran sentral digitalisasi yang berperan sebagai katalisator dalam upaya pemulihan global.

“Digitalisasi merupakan katalisator dalam pemulihan global baik itu dalam peningkatan produktivitas, meningkatkan ketahanan dan stabilitas, atau juga memastikan keberlanjutan dan pertumbuhan yang inklusif bagi seluruh masyarakat” Ujar Prof. Suhono Supangkat dari berita tertulis diterima Merdeka Bandung.

Namun, untuk mendukung pemerataan digitalisasi, maka diperlukan sebuah konsep cemerlang untuk memastikan digitalisasi dapat digunakan sebagai instrumen pemecahan masalah yang ada. Oleh karena itu, dicetuskan sebuah konsep yang diberi nama Smart World Living Lab.

Konsep ini pada dasarnya merupakan sebuah konsep yang melibatkan pemerintah, industri, akademia, bisnis, dan sektor-sektor lainnya untuk menghasilkan sebuah solusi yang berkelanjutan. Selain itu, seperti yang dijelaskan oleh Dr. Adiwan Aritenang, konsep Living Lab merupakan laboratorium nyata yang menggunakan data nyata untuk memecahkan masalah nyata berbasis multi-stakeholder.

Salah satu desa yang telah berhasil menerapkan konsep Lving Lab adalah Desa Cangkinang yang merupakan salah satu desa di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Desa Cangkinang berhasil mengatasi sejumlah masalah pedesaan mulai dari pertanian, kesehatan, pelayanan masyarakat dan lain sebagainya dengan mengintegrasikan digitalisasi. Digitalisasi tersebut telah berhasil menjadi akselerasi dalam meningkatkan perekonomian ekonomi Desa Cangkinang.

“Digitalisasi bukan lagi hanya merupakan konsep bagi kami di pedesaan. Mewujudkan konsep Smart Villlage melalui digitalisasi bukan merupakan suatu hal yang mustahil," ujar Kepala Desa Cangkinang, Didi Wahyudi.

Kemudian, digitalisasi dengan konsep Living Lab juga diaplikasikan di wilayah maritim dan wilayah 3T lainnya. Saat ini, Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) sedang menyiapkan sistem teknologi terintegrasi berbasis satelit yang akan digunakan sebagai sistem pengawasan operasi penangkapan ikan dan memberikan data yang akurat tentang berbagai kebutuhan nelayan di laut.

Dalam acara yang digelar secara hybrid ini (online dan offline), TF2 T20 didampingi perwakilan dari pemerintahan provinsi Jawa Barat juga secara resmi meluncurkan konsep Smart World Living Lab. Konsep ini ditargetkan akan diaplikasikan di beberapa wilayah terbatas seperti Dago, Dipati Ukur, Ganesha (DDG), Desa Braga, Kota Bandung, Desa Cangkingan, dan Kawasan Bahari Cantigi Kabupaten Indramayu.

Â

Â

Â

Â

Â

Tag Terkait