1. BANDUNG
  2. HALO BANDUNG

Warga Bandung manfaatkan program kredit melati dengan jumlah pinjaman Rp 52 miliar

"Target kita 100 ribu wirausahawan baru yang disebar di lima OPD," kata Lusi.

Kepala Bagian Ekonomi, Lusi Lesminingwati. ©2018 Merdeka.com Reporter : Dian Rosadi | Rabu, 21 Februari 2018 13:57

Merdeka.com, Bandung - Tingkat penyerapan produk kredit mikro yang diluncurkan oleh PD.Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Kota Bandung diklaim sudah cukup baik. Banyak warga Bandung yang telah memanfaatkan berbagai program kredit mikro yang digulirkan Pemkot Bandung lewat PD BPR.

Ketiga produk tersebut antara lain Kredit Melati (Melawan Rentenir), Kredit Bagja (Membangun Keluarga Sejahtera), dan Kredit Mesra (Mesjid Sejahtera).

Kepala Bagian Ekonomi, Lusi Lesminingwati mengatakan, ada 16 ribu nasabah Kredit Melati dengan nilai pinjaman Rp 52 miliar. Sementara itu Kredit Mesra yang diluncurkan 21 Agustus 2017 telah memiliki 274 nasabah dengan nilai pinjaman Rp 306 juta. Sedangkan Kredit Bagja yang baru diluncurkan 13 November 2017 telah dimanfaatkan oleh 24 nasabah dengan nilai kredit Rp 36 juta.

"Kalau kredit Bagja itu kan masih baru, dan sasarannya adalah ibu-ibu PKK atau kader Posyandu. Kredit itu diluncurkan dalam rangka membangun ketahanan keluarga," ujar Lusi kepada wartawan di Balai Kota Bandung.

Ia menyebut, Non Performing Loan (NPL) atau kredit bermasalah ketiga produk yang telah diluncurkan hanya 1,06 persen. Kredit Melati 1,06 persen, sementara Kredit Mesra dan Kredit Bagja 0 persen. Artinya, dana bergulir cukup baik di ketiga kredit tersebut.

Ketiga kredit mikro tersebut diluncurkan sebagai solusi atas permasalahan permodalan usaha untuk masyarakat. Kredit tanpa agunan itu diharapkan bisa meningkatkan angka wirausaha di Kota Bandung.

"Target kita 100 ribu wirausahawan baru yang disebar di lima OPD (Organisasi Perangkat Daerah)," kata dia.

Oleh karenanya, masyarakat juga diharapkan bisa meningkatkan peluang usaha agar perekonomian warga terus meningkat. Saat ini, laju pertumbuhan ekonomi di Kota Bandung berada di angka 7,8 persen, salah satu yang tertinggi di Indonesia. Lusi berharap, angka tersebut bisa meningkat di tahun 2018.

"Kami masih menunggu data BPS (Badan Pusat Statistik) Jawa Barat tentang angka ekonomi ini. Tetapi mudah-mudahan meningkat," katanya.

(ES/DR)
  1. Info Kota
  2. Perbankan
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA