1. BANDUNG
  2. HALO BANDUNG

Tangkal Radikalisme, FPIPS UPI Gelar Seminar Bahaya HTI Tuk Keutuhan NKRI

"Makanya setelah adanya kegiatan-kegiatan ini bisa menjadi edukasi buat mahasiswa agar bisa memilih dan memilah organisasi yang baik".

FPIPS UPI Gelar Seminar. ©2018 Merdeka.com Reporter : Astri Agustina | Kamis, 13 Desember 2018 15:14

Merdeka.com, Bandung - Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar seminar dengan mengusung tema bahaya Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Kamis (13/12) di Auditorium FPMIPA UPI, Gedung JICA, Jalan Setiabudi.

Ketua umum Badan pengurus organisasi (BPO) senat mahasiswa FPIPS UPI, Andre Akbar mengatakan,seminar yang diselenggarakan untuk para mahasiswa UPI ini bertujuan untuk menangkal radikalisme di area kampus. Soalnya, disinyalir masih ada sayap gerakan HTI yang masih beraktivitas di area kampus.

"Kegiatan hari ini dengan tema seminar tentang bahaya HTI untuk keutuhan NKRI. Jadi, kenapa kita melakukan seminar kedua FPIPS ini dalam rangka menangkal radikalisme," ujar Andre kepada Merdeka Bandung.

Andre Akbar mengatakan, bahwa kegiatan seminar ini merupakan kedua kalinya diselenggarakan pihak FPIPS UPI. Kemudian, lanjut Andre dengan adanya kegiatan ini, diharapkan bisa memberikan edukasi kepada para mahasiswa untuk bisa lebih teliti dalam memilih organisasi. Soalnya, banyak organisasi yang mengatasnamakan agama namun justru memiliki kepentingan sendiri.

"Makanya setelah adanya kegiatan-kegiatan ini bisa menjadi edukasi buat mahasiswa agar bisa memilih dan memilah organisasi yang baik," ujarnya.

Sementara itu, Mantan anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Ustad Ayik Heriansyah mengatakan, saat ini, keberadaan mahasiswa merupakan salah satu unsur penting dalam pemerintahan, di mana telah dianggap menjadi agen pembawa perubahan bagi suatu negara.

Ini, kata Ayik merupakan suatu kebanggaan tersendiri, di mana mahasiswa tidak hanya sebagai orang yang sedang menempuh pendidikan di suatu perguruan tinggi, tetapi juga sebagai wadah pemberi solusi bagi berbagai permasalahan yang timbul dalam kehidupan bermasyarakat di suatu negara.

"Sangatlah tepat jika dikatakan bahwa mahasiswa merupakan golongan akademis yang memiliki tempat tersendiri di dalam masyarakat. Hal ini dikarenakan mahasiswa memiliki potensi serta kelebihan yang tentu saja tidak bisa disamakan dengan rakyat biasa, terutama dalam hal perjuangan serta kontribusinya terhadap bangsa dan negara," ujar Ayik.

Selain itu, lanjut Ayik mahasiswa sangatlah penting dalam menjaga ikatan yang kokoh antar sesama komponen bangsa yang pada akhirnya akan memperkokoh keutuhan NKRI. Sehubungan hal tersebut, cerminan sikap dan pola pikir warga negara termasuk mahasiswa sangat dipengaruhi bagaimana pemahaman terhadap kebangsaan.

Kemudian mahasiswa harus dapat memberikan ketauladanan sebagai pemuda yang berpendidikan dengan mengedepankan toleransi dan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat. Mahasiswa harus mampu mengembangkan inovasi dan menghargai kearifan lokal agar bangsa Indonesia tidak bergantung terhadap nilai-nilai luar. Sebagai mahasiswa juga harus dapat menunjukkan moralitas dan karakter yang kuat, dengan demikian seorang mahasiswa harus pandai merasa bukan merasa pandai.

Mahasiswa memiliki potensi yang besar dalam menyelesaikan persoalan bangsa, terutama persoalan yang menyangkut keutuhan NKRI, meski tidak dipungkiri bahwa persoalan dalam diri mahasiswa juga banyak. Yang terpenting adalah kesadaran mahasiswa untuk mampu mengubah diri dari obyek pembangunan menjadi subyek pembangunan dan mampu tampil untuk mendukung keutuhan bangsa ini.

"Persoalan bangsa memang tidak dapat segera diselesaikan, tetapi setidaknya dengan membangun kesadaran pada diri mahasiswa, maka keutuhan bangsa memiliki harapan untuk makin diperkokoh," tuturnya.

Untuk menjaga keutuhan NKRI kita sebagai mahasiswa harus bangga sebagai bangsa Indonesia, menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, menjaga kekayaan alam Indonesia sebagai warisan untuk digunakan generasi bangsa di masa yang akan datang, menjaga kekayaan budaya dan keragaman suku bangsa dengan saling menghormati perbedaan, dan berkomitmen untuk bersama-sama mempertahankan kemerdekaan Indonesia demi keutuhan NKRI.

Oleh hal itu di mana mahasiswa diharapkan mampu melakukan sosialisasi kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah kepada masyarakat yang seringkali dalam berbagai kasus, kebijakan-kebijakan tersebut sering disalahartikan oleh masyarakat.

Sehingga di sini tugas mahasiswa adalah sebagai penerjemah tentang maksud dan tujuan dari kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggap kontroversial tersebut sehingga pada akhirnya dapat dipahami dan dimengerti oleh masyarakat terutama mengenai bahaya ancaman Hizbut Tahrir terhadap keutuhan NKR.

Menurutnya bahwa Hizbut Tahrir didirikan sebagai harokah Islam yang bertujuan mengembalikan kaum muslimin untuk kembali taat kepada "hukum-hukum Allah" yakni "hukum Islam", memperbaiki sistem perundangan dan hukum negara yang dinilai tidak "Islami" atau "kufur" agar sesuai dengan tuntunan syariat Islam, serta membebaskan dari sistem hidup dan pengaruh negara barat.

Hizbut Tahrir juga bertujuan untuk membangun kembali pemerintahan Islam warisan Muhammad dan Khulafaur Rasyidin yakni "Khilafah Islamiyah" di dunia, sehingga hukum Islam dapat diberlakukan kembali.

Turut hadir dalam seminar tersebut yaitu guru besar pendidikan bahasa Arab Syihabuddin, Mantan Anggota HTI Ayik Heriansyah dan Dekan FPIPS Agus Mulyana sebagai pembicara.

(ES/AA)
  1. Info Kota
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA