1. BANDUNG
  2. HALO BANDUNG

September-November wilayah Jawa Barat akan diguyur hujan lebat

Secara umum wilayah di Indonesia pada Agustus ini dalam posisi kemarau. Namun karena pengaruh faktor global, maka terjadi pembentukan awan.

©2016 Merdeka.com Reporter : Iman Herdiana | Jum'at, 19 Agustus 2016 11:23

Merdeka.com, Bandung - Hujan lebat masih akan melanda sebagian wilayah Jawa Barat di musim kemarau basah ini. Pemerintah daerah diminta mengantisipasi kemungkinan terjadinya hujan yang ekstrem.

“Jawa Barat kalau menurut prediksi kami belum aman dari kemungkinan hujan lebat, apalagi menyongong bulan September, Oktober, November,” kata peneliti klimatologi Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN), Erma Yulihastin, saat dihubungi Merdeka Bandung.

Secara umum wilayah di Indonesia pada Agustus ini dalam posisi kemarau. Namun karena pengaruh faktor global, maka terjadi pembentukan awan yang mendorong hujan.

Salah satu faktor globalnya, kata Erma, adalah hasil perhitungan terhadap anomali suhu air laut Samudera Hindia yang dikenal sebagai Dipole Mode Index negatif. Dampaknya adalah curah hujan yang tinggi.

“Faktor tersebut membuat banyak awan yang melingkupi Indonesia di musim kemarau ini. Padahal kalau dilihat anginnya sudah kemarau. Namun dari kelembabannya masih ada awan cumulonimbus yang menindikasikan seolah ini musim hujan. Itu sebabnya disebut kemarau basah,” terangnya.

Menurutnya, jumlah awan pembentuk hujan akan meningkat menjelang September di mana saat memasuki musim hujan. Bahkan untuk Jawa Barat terjadi pertemuan angin dari dari Samudera Australia dan Samudera Hindia.

Sedangkan daerah basah selama anomali musim ini terutama terjadi di wilayah selatan dan utara Jawa Barat.

“Secara lokal di Jawa Barat pertemuan angin dari Australia dan Samudera Hindia akan membentuk awan, baik di utara maupun selatan Jawa Barat,” terangnya.

Dengan fenomena tersebut, ia berharap pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota sudah menyiapkan antisipasi menghadapi anomali musim yang diprediksi selama tiga bulan ke depan.

“Selama tiga bulan ke depan harus bisa antisipasi adanya perubahan cuaca semacam itu,” katanya.

(MH/IH)
  1. Prakiran Cuaca
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA