1. BANDUNG
  2. HALO BANDUNG

Rektor Unpad: Ilmuwan Indonesia bisa dapat Nobel

Ilmuwan Indonesia bisa mendapatkan Nobel bukan hal yang mustahil atau sekedar impian.

Rektor Unpad Tri Hanggono Achmad. ©2016 Merdeka.com Reporter : Iman Herdiana | Kamis, 25 Agustus 2016 16:05

Merdeka.com, Bandung - Hadiah Nobel mungkin menjadi impian bagi setiap ilmuwan, termasuk di Indonesia. Terlebih Indonesia memiliki banyak lembaga riset termasuk kampus-kampus ternama yang di dalamnya banyak ilmuwan berkualitas.

Rektor Unpad Pof. Tri Hanggono Achmad mengatakan, ilmuwan Indonesia bisa mendapatkan Nobel bukan hal yang mustahil atau sekedar impian. “Dengan kekuatan-kekuatan kita saat ini. Saya yakin melalui IAPI kita sudah bisa menyusun roadmap Nobel untuk Indonesia,” kata Rektor Tri, dalam Kuliah Inaugurasi Prof Dr Armida Salsiah Alisjahbana sebagai Anggota Komisi Bidang Ilmu Sosial Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) di Kampus Unpad, Bandung, Kamis (25/8).

“Bukan impian kalau ilmuan Indonesi amenjadi pemenang Nobel,” ucap Tri  yang mendapat sambutan meriah dari hadirin inaugurasi.

Tri mengapresiasi AIPI yang mengukuhkan Armida Salsiah Alisjahbana sebagai anggotanya. Armida sendiri merupakan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unpad sejak 2005. Masuknya Armida sebagai anggota AIPI, sambung dia, diharapkan bisa meningkatkan peran ilmuwan dalam pembangunan bangsa. AIPI merupakan wadah para ilmuwan yang perannya sangat strategis.

Bagi Unpad, Armida adalah mutiara yang kembali ke kampus setelah sebelumnya pada masa Presiden SBY menjadi Kepala Bappenas. “Kami juga senang AIPI goes to campus, ini kesempatan bagi kampus untuk ekspresikan kemampuan akademiknya,” ujar Tri.

Ketua AIPI Prof. Sangkot Marzuki menanggapi pernyataan Tri terkait peluang ilmuwan Indonesia mendapatkan Nobel. Menurutnya, sebenarnya Indonesia pernah menghasilkan ilmuwan peraih Nobel, yakni Christiaan Eijkman (1858-1930) pada 1929.

Sebelum mendapat Nobel bidang Kedokteran, peneliti berkebangsaan Belanda ini lama melakukan penelitian di Hindia Belanda, terutama di Batavia (kini Jakarta).

“Indonesia pernah menghasilkan Hadiah Nobel untuk Eijkman. Dia penelitiannya di Indonesia tapi dapat Nobel saat berada di Utrecht,” tutur Sangkot.

(FF/IH)
  1. Pendidikan
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA