1. BANDUNG
  2. HALO BANDUNG

Museum Bandung gelar festival 'Panon Hideung Museum Market'

"Pasar Museum sesuai dengan judulnya merupakan wadah kegiatan seperti pasar pada umumnya".

festival. ©2018 Merdeka.com Reporter : Dian Rosadi | Minggu, 04 November 2018 11:23

Merdeka.com, Bandung - Baru beberapa hari setelah diresmikan, Museum Bandung langsung menggelar beragam acara demi menarik para pengunjung. Salah satunya dengan menggelar festival bertajuk 'Panon Hideung Museum Market'. Acara ini digelar selama dua hari yakni 3-4 November 2018.

Kepala Museum Bandung Hermawan Rianto mengatakan, acara Panon Hideung Museum Market ini merupakan rangkaian dari program yang dimiliki oleh Museum Bandung. Selain pameran koleksi museum yang ada didalam gedung museum juga ada program popular berupa 'Pasar Museum'.

"Pasar Museum sesuai dengan judulnya merupakan wadah kegiatan seperti pasar pada umumnya. Pasar Museum merupakan bentuk ekonomi kreatif yang dilaksanakan oleh Museum Kota Bandung," ujar Hermawan kepada awak media saat ditemui sela acara di Museum Bandung, Jalan Aceh, Sabtu (3/11) malam.

Hermawan menjelaskan, dalam acara ini diisi dengan beragam kegiatan. Mulai dari pameran, kegiatan dan penjualan buku, pemutaran film, fotografi, musik, pertunjukan tari, wayang, teater, fashion show, kopi, kuliner, prodik antik & vintage, kriya dan lainnya. Selain itu juga ada diskusi.

Hermawan mengaku sengaja menyematkan nama acara 'Panon Hideung'. Nama ini merupakan judul sebuah lagu populer pada masanya yang menjadi ikon pada jamannya. Panon Hideung berasal dari lagu Rusia yang berjudul 'Ochi Chornye' atau 'Dark Eyes' yang 'diSundakan' oleh Ismail Marzuki pada tahun 1939 menjadi Panon Hideung. Lagu ini dibuat oleh Ismail Marzuki sebagai pujaan untuk Euis Zuraidah seorang penyanyi keroncong yang kemudian dinikahinya pada tahun 1940.

"Lagu ini sangat ‘sexy’ pada jamannya dan menjadi lagu yang selalu dilantunkan para pejuang dan menjadi lagu favorit para gadis dimana mereka bisa mengekspresikan diri sebagai si pecinta sejati dan sang pujaan hati pada lagu tersebut,"ucapnya

Panon Hideung sebagaimana sebuah lagu dipengaruhi oleh 'jamannya' lanjut Hermawan membawa dan dipengaruhi oleh banyak jejak produk budaya seperti trend, gaya hidup, filosofi, ideologi, teknologi bahkan pengaruh budaya barat dsb. Sehingga lag Panon Hideung tersebut adalah 'artefak' dari sebuah era.

"Itulah yang mendasari kita memilih Panon Hideung menjadi nama Pasar Museum atau Museum Market. Nantinya berbagai kegiatan lainnya akan mengambil nama atau judul dengan karakter dan pertimbangan seperti itu. Panon Hideung memang dibuat tahun `39-an, namun karakter lagunya yang punya potensi dikemas dalam sekian genre membuat banyak musisi memainkannya dan masih enak didengar dan dinikmati hari ini. Kita juga berharap Pasar Museum seperti Panon Hideung tidak lekang oleh waktu. Masih ’sexy’ hingga hari ini," ungkapnya.

Di hari pertama, acara diisi dengan pertunjukan pencak silat, tari-tarian tradisional. Selain itu juga ada diskusi yang menghadirkan narasumber Prof Sobana yang mengangkat tentang sejarah Bandung. Pada malam hari acara diisi dengan pertunjukan seniman Sunda Jimbot and Friends. Sebagai pembuka penampilannya jimbot memainkan suling yang. Kemudian dilanjutkan dengan membawakan beberapa lagu tradisional. Diiiringi dengan alat musik tradisional khas Sunda, Jimbot sukses menghibur para penonton yang hadir di Museum Bandung.

Ditemui di sela acara, Jimbot mengaku senang bisa menjadi bagian sebagai pengisi acara. Secara pribadi hal ini merupakan suatu kebanggan.

"Saya ngerasa memiliki kebanggaan karena satu di museum, ini museum bandung. Kedua banyak sejarah. Ini sebuah kebanggaan bisa tampil disini salah satunya saya juga membawa misi misi kebudayaan, musik musik tradisional yang dikemas dengan kekinian,"ucap Jimbot.

Jimbot mengaku merasa memiliki ruh yang memberikan spirit saat tampil di bangunan bersejarah. Hal ini tentunya berbeda saat dia tampil di panggung-panggung pertunjukan pada umumnya.

"Ketika ada museum, ini mengingatkan kita supaya tidak melupakan peninggalan peninggalan terdahulu yang memberikan kontribusi besar. Dan contohnya saya bisa main kecapi, suling, karena ada pendahulu. Kalau misalnya tidak ada sejarah, tidak ada itu saya bingung harus cari kemana. Dan ini suatu kebanggaan buat saya," katanya.

(ES/DR)
  1. Museum
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA