1. BANDUNG
  2. HALO BANDUNG

Menkes fokus selesaikan KLB Difteri di seluruh Indonesia

"Kita cegah, jangan sampai virus apapun seperti difteri ini menjadi KLB muncul kembali," kata Dede Yusuf.

Menkes Nila F Moeloek bersama Dede Yusuf di Bandung. ©2018 Merdeka.com Reporter : Astri Agustina | Minggu, 14 Januari 2018 12:47

Merdeka.com, Bandung - Upaya bersama lintas sektor sangat dibutuhkan untuk dapat menyelesaikan kasus kejadian luar biasa (KLB) Difteri yang mengemuka di pertengahan Desember lalu. Salah satunya, dengan mendukung pelaksanaan outbreak respons immunizations (ORI) agar berhasil menutup gap immunity di wilayah yang terjadi KLB Difteri.

Hal ini bertujuan dalam rangka mewujudkan cita-cita bersama, yakni melindungi seluruh warga negara dari ancaman penyakit berbahaya. Seperti diketahui, munculnya KLB Difteri sangat terkait dengan keberadaan immunity gap, yaitu kesenjangan atau kantong kosong kekebalan di kalangan penduduk di suatu daerah.

Kekosongan kekebalan ini terjadi akibat adanya akumulasi kelompok yang rentan terhadap Difteri, karena tidak mendapat imunisasi atau tidak lengkap imunisasinya. "Kita cegah, jangan sampai virus apapun seperti difteri ini menjadi KLB muncul kembali," ujar Ketua Komisi IX, Dede Yusuf kepada Merdeka Bandung, Sabtu (13/1).

Selama 2017, KLB Difteri terjadi di 170 kabupaten atau kota dan di 30 provinsi, dengan jumlah sebanyak 954 kasus, dengan kematian sebanyak 44 kasus. Sedangkan tahun ini, hingga 9 Januari 2018, terdapat 14 laporan kasus dari 11 kabupaten atau kota di empat provinsi DKI, Banten, Jabar dan Lampung, serta tidak ada kasus meninggal.

Pada 2018 tidak ada penambahan kabupaten atau kota yang melaporkan adanya KLB Difteri. Data terakhir, terdapat 85 kabupaten dan kota dari total 170 kabupaten dan kota yang sudah tidak melaporkan kasus baru. Itu artinya KLB di 85 kabupaten/kota tersebut bisa dikatakan berakhir.

"Seperti diketahui, kriteria berakhirnya suatu KLB adalah apabila tidak ditemukan lagi kasus baru selama dua kali masa inkubasi terpanjang, ditambah masa penularan difteri sejak laporan kasus terakhir, sehingga status KLB dapat dicabut setelah empat minggu oleh pemerintah daerah," ujar Menteri Kesehatan, Nila F Moeloek.

Outbreak respons immunization (ORI) merupakan standard operating procedure apabila terjadi KLB penyakit yang sebenarnya bisa dicegah oleh imunisasi (PD3I), dalam hal ini difteri. ORI dilaksanakan langsung bila ditemukan penderita difteri oleh Puskesmas. Sasaran ORI adalah anak berusia 1 sampai dengan 19 tahun.

ORI bertujuan untuk meningkatkan kekebalan masyarakat dengan menutup immunity gap sehingga diharapkan dapat memutus mata rantai penularan. Karena itu, ORI difteri sebanyak tiga putaran perlu dilakukan untuk membentuk kekebalan tubuh dari bakteri corynebacterium diphteriae.

ORI putaran pertama sebagai upaya pengendalian KLB difteri telah dilaksanakan pada pertengahan Desember 2017 di 12 kabupaten atau kota di 3 provinsi, yakni DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat. Hingga 11 Januari 2018 cakupan di tiga provinsi tersebut rata-rata 68,36 persen dari total sasaran 7,9 juta.

"ORI telah dimulai di 12 kabupaten atau kota pada Desember 2017 dan akan dilanjutkan secara bertahap di 73 kabupaten atau kota di 11 provinsi lainnya pada 2018 dengan kriteria kabupaten atau kota yang masih memiliki laporan kasus baru," katanya.

Pemerintah jamin imunisasi rutin

Selain itu, pemerintah juga menjamin ketersediaan vaksin difteri (DPT-HB-Hib, DT dan Td) yang digunakan untuk kegiatan ORI dan kegiatan imunisasi rutin. Distribusi vaksin dilakukan secara berjenjang sampai di tingkat pelayanan. "Kami tentu harus pastikan kalau ketersediaan vaksin ada makanya kami datang ke Biofarma," kata Nila F Moeloek.

Adapun sasaran Pelaksanaan ORI Tahun 2017 hingga 2018 ini kurang lebih sebanyak 32.212.892 orang dengan kategori usia satu sampai dengan kurang lima tahun (7.236.672 orang), usia lima sampai dengan kurang tujuh tahun (3.684.049 orang), dan usia tujuh sampai dengan 18 tahun (21.292.171 orang).

Bio Farma sebagai BUMN produsen Vaksin dan Antisera terbesar di Asia Tenggara, berkomitmen untuk mendukung pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan vaksin, khususnya vaksin Difteri.

"Vaksin produksi Bio Farma yang digunakan pada ORI dan program imunisasi nasional, terjamin kualitas, keamanan, khasiat dan mutunya karena telah dilakukan pengujian untuk mendapatkan izin dari Badan POM, serta telah mendapatkan pengakuan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO)," katanya.

Saat ini produk vaksin Bio Farma sudah digunakan oleh lebih dari 130 negara, termasuk diantaranya 50 negara Islam.

Menghadapi KLB Difteri, Biofarma akan menambah kapasitas produksi vaksin dengan kandungan Difteri dengan memaksimalkan produksi, serta memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dalam negeri, sehingga permintaan ekspor telah dinegosiasi untuk dijadual ulang setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi.

Vaksin dengan kandungan difteri yang diproduksi Biofarma terdiri dari Vaksin DTP-HB-Hib (Pentabio) diberikan untuk anak usia satu hingga lima tahun, vaksin DT diberikan untuk usia lima sampai tujuh tahun, dan Vaksin Td diberikan untuk usia diatas tujuh tahun.

(MT/AA)
  1. Layanan Kesehatan
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA