1. BANDUNG
  2. HALO BANDUNG

Kemendikbud berikan sertifikat kepada sekolah yang berhasil cetak wirausaha muda

"Bisnis itu kan yang paling penting sikap mental. Kemudian keterampilan menjual dan marketing," kata Tresi.

Tresi Tiara Intania Fatimah. ©2018 Merdeka.com Reporter : Astri Agustina | Kamis, 07 Juni 2018 10:38

Merdeka.com, Bandung - Direktorat Pembinaan SMK Kemendikbud dan The Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) menyerahkan sertifikat penghargaan kepada kepala sekolah, guru, dan siswa program pendidikan kewirausahaan, Selasa (5/6).

Sertifikat elektronik diberikan kepada sekolah sebanyak 7,66 persen siswanya dari 399 siswa peserta program kewirausahan mencapai omzet minimal sebesar Rp 5 juta perbulan dalam satu semester.

Direktur SEAMEO Secretariat menyerahkan sertifikat penghargaan kepada Kepala Sekolah, Guru Pembimbing, serta 26 siswa SMK Teknologi Industri (TI) Pembangunan Cimahi yang menjadi percontohan program kewirausahaan.

"Di awal saya membuat kontrak belajar dengan siswa. Mereka kalau tidak mencapai omzet minimal Rp 500 ribu di akhir semester, nilainya ditunda," ujar guru pembimbing Program Kewirausahaan SMK TI Pembangunan Cimahi, Tresi Tiara Intania Fatimah, Selasa (5/6).

Dikatakannya, itu adalah trik agar siswa mau mengubah pola pikir dan mengatasi berbagai halangan yang ada di dalam dirinya untuk berwirausaha.

"Bisnis itu kan yang paling penting sikap mental. Kemudian keterampilan menjual dan marketing," tuturnya.

Menurut Tresi, program SMK Pencetak Wirausaha (SPW) sangat baik untuk menumbuhkan wirausaha muda. Baginya, program ini sangat strategis untuk mengubah pola pikir guru kewirausahaan dan kepala sekolah yang masih meremehkan kewirausahaan.

"Saya senang, sekarang di Permendikbud tentang beban kerja guru kan disebutkan bahwa kepala sekolah punya tugas mengembangkan kewirausahaan," ungkapnya.

Mendatang ia berharap agar rekan-rekan pengajar kewirausahaan dapat memahami potensi siswanya dan mau terus mengembangkan diri. Pola pikir wirausaha harus dibentuk dengan literasi yang baik dan keberanian melakukan terobosan.

Ia menyoroti guru kewirausahaan yang seringkali tidak mengetahui bahwa muridnya sudah berbisnis atau memiliki bisnis. Banyak pula guru kewirausahaan yang senang berada di 'zona nyaman', mengajar dengan referensi yang sudah usang dan tidak mendorong ketertarikan peserta didik.

"Vokasi, terutama kewirausahaan itu kan 70 persen praktik, sisanya teori. Kalau murid itu sudah praktik, jauh lebih gampang untuk memberikan pemahaman teorinya," katanya.

(ES/AA)
  1. Pendidikan
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA