1. BANDUNG
  2. HALO BANDUNG

Jadi spectrum autis di film terbarunya, Dimas Anggara mengaku ini permintaannya

"Saya dikasih waktu tiga bulan buat research dan observasi. Kebetulan Screenplay juga menyediakan psikolog di bidang ini".

Dimas Anggara. ©2018 Merdeka.com Reporter : Astri Agustina | Minggu, 21 Oktober 2018 11:53

Merdeka.com, Bandung - Film ‘Dancing in the Rain’ sudah tayang di layar bioskop sejak 18 Oktober lalu. Dimas Anggara didapuk sebagai pemeran utama dalam film ini. Di sini, ia mendapat peran yang lain dari biasanya. Sebagai seorang spectrum autis, sosok Banyu yang diperankannya ini tentunya memberikan tantangan dan beban berat untuk suami Nadine Chandrawinata itu.

Pria kelahiran 10 September 1988 itu mengaku bahwa mendapat peran sebagai spectrum autis difilm yang diproduksi oleh Screenplay Films dan Legacy Pictures ini hadir dari permintaannya sendiri. Kata Dimas, semula ia mengaku penasaran untuk berperan seperti karakter Banyu yang didapatkan. Ia berupaya menantang dirinya meski sempat takut untuk mengambil peran Banyu ini.

"Awalnya saya yang minta karakter ini kepada Screenplay, ingin yang beda. Lalu Screenplay memberikan skenario sesuai yang saya minta dan pas baca saya langsung takut. Soalnya ini berat banget buat saya. Dari situ saya diskusi sama orangtua, dan orangtua saya bilang saya harus fight sampai akhir. Saya pun terima tawaran ini," ujar Dimas kepada Merdeka Bandung, Sabtu (21/10).

Pria berdarah Kebumen dan Batak itu mengaku bahwa tantangan yang ada dalam film ini sangatlah berat. Menjadi seorang Banyu yang spectrum autis membuat otak Dimas penuh tanya, apakah ia bisa berhasil berperan sebagai tokoh dengan karakter sangat kuat ini. Itu lah yang membuatnya sempat takut dan tidak percaya diri.

"Saya dikasih waktu tiga bulan buat research dan observasi. Kebetulan Screenplay juga menyediakan psikolog di bidang ini jadi membuat saya yakin dan mudah-mudahan bisa memberikan yang terbaik. Saya pun sempat bertemu dengan mereka (para penyandang spectrum autis) dan banyak belajar soal gestur, juga cara bicara," jelasnya.

Hal yang paling sulit selama menyelami karakter sebagai Banyu, lanjut Dimas, adalah cara pandang. Bagaimana para penyandang spectrum autis ini memandang dengan cara berbeda karena cenderung menghindari kontak mata. Meski sulit, ia mengaku semua orang yang terlibat dalam film ini memberikan dukungan dan semangat penuh untuknya.

Didapuk beradu akting dengan Christine Hakim, Bunga Zain, dan Deva Mahenra, Dimas mengaku begitu banyak pelajaran yang bisa diambil selama proses syuting ‘Dancing in the Rain’ berlangsung. Satu hal yang pasti, mendapat peran Banyu ini membuatnya belajar lebih untuk bisa bertoleransi.

"Sosok Banyu ini mengajarkan saya jadi bisa belajar untuk lebih bertoleransi lagi. Harapannya untuk mereka yang menyaksikan film ini bisa stop bullying karena mereka (para penyandang spectrum autis) juga punya tempat yang sama kayak kita," kata pria bertato ini.

(ES/AA)
  1. Film
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA