1. BANDUNG
  2. HALO BANDUNG

Iman Jimbot, seniman Sunda yang telah tampil di 27 negara

Iman terkadang menyayangkan masih minimnya perhatian pemerintah terhadap musisi tradisional yang tampil di luar negeri.

Iman Jimbot. ©2018 Merdeka.com Reporter : Dian Rosadi | Minggu, 04 November 2018 12:35

Merdeka.com, Bandung - Iman Jimbot menjadi salah satu seniman Sunda yeng telah melanglangbuana ke berbagai negara di penjuru dunia. Membawakan musik tradisional Sunda, sedikitnya ada 27 negara yang telah disambangi pria bernama asli Iman Rohman ini.

Komposisi musik tradisional yang kental dengan ritme eksperimental kontemporer menjadi ciri khas Iman Jimbot. Alunan kecapi, suling dan kendang mampu memukau para penonton di setiap penampilannya.

"Saya sudah tampil di 27 negara. Sebagian besar saya diundang dari sesama musisi di sana," ujar Iman Jimbot kepada Merdeka Bandung saat ditemui di Museum Bandung, Jalan Aceh, Sabtu (3/11) malam.

Dari 27 negara yang pernah disambangi Iman Jimbot di antaranya Perancis, Inggris, Spanyol, Swiss, Jepang. Iman mengaku sebagian besar undangan tampil di luar negeri berasal dari sesama musisi. Namun ada juga beberapa undangan dari kedutaan besar Indonesia di luar negeri.

"Justru sebelum-sebelumnya saya jarang didukung sama pemerintah, tapi alhamdulilla karena memang jaringannya dengan musisi-musisi di luar itu saya lebih disupport dengan swasta yang sifatnya diluar si pengundangnya sendiri, seperti sponsor. Dia yang ngudang saya dia berani memberikan apa-apa, termasuk mencukupi kebutuhan," kata dia.

Iman mengungkapkan, dirinya terkadang menyayangkan masih minimnya perhatian pemerintah terhadap musisi tradisional yang tampil di luar negeri. Padahal dirinya membawa misi untuk mengenalkan dan menyebarluaskan kebudayaan Indonesia ke mancanegara. Iman terkadang merasa lebih dihargai ketika tampil di luar negeri.

"Saya merasa ada beberapa pengalaman yang 'nyeri hate' lah kasarnya. Saya main di Spanyol 10 kota terus tidak mendapat dukungan apa-apa, padahal saya teh bawa negara. Di Spanyol mau bertemu dengan warga sendiri (Indonesia) enggak ada satupun. Itu dari 10 kota. Saya teh sedihnya gimana ya, orang Spanyol berani mempromosikan kebudayaan kita tapi ini dari pemerintah enggak ada dukungan," katanya.

Berbeda di Spanyol, Iman pun menceritakan pengalaman menariknya saat tampil di London Inggris. Dia mendapatkan undangan dari Dubes Indonesia untuk kerajaan Inggris. Di Inggris, Iman mengaku sangat dihargai karena Dubes di sana memberikan perhatian terhadap budaya tradisional.

"Kemarin (bulan Juni) waktu di London, saya diundang oleh Dubes tampil di sana. Saya merasa memiliki dan saya merasa menjadi warga negara Indonesia. Karena biasanya kalau luar negeri tidak ada yang mengaku," keluhnya.

Di sisi lain Iman pun merasa miris karena masih rendahnya minat masyarakat Indonesia sendiri untuk mempelajari kebudayaannya. Padahal banyak orang luar negeri yang ingin belajar kebudayaan tradisional Indonesia seperti musik, tari dan lainnya.

"Mencintai kebudayan itu bukan hanya untuk belajar. Tapi ketika mengapresiasi itu bagian dari mencintai kebudayaan. Itu kenapa kalau di luar sangat diapresiasi karena mereka sangat mencintai dan menghargai,"ucap pria asli asal Ciamis ini.

Satu pengalaman yang membuat Iman kerap kali menitikan air mata, dirinya mengetahui jika musik merupakan bahasa universal. Meskipun berbeda negara, keyakinan, suku, warna kulit, dan semuanya bisa menyatu lewat musik.

"Saya 'ceurik' (menangis) wae mun ka luar negeri. Musik itu bahasa universal, disitu ada rasa, bukan hanya ngaband berkebudayaan meski beda bahasa agama, 'gening kabeh dulur' (kita semua saudara). Jadi saya suka kesel dengan kondisi sekarang di beberepa tempat yang suka perang," ungkap Iman yang dalam waktu dekat akan tampil di Singapura.

Iman pun berharap, tak hanya kepada pemerintah saja, pihak swasta dapat memberikan dukungan untuk musisi tradisional yang tampil di luar negeri.

"Swasta harus partisipasi. Bisa dicontoh di luar negeri seperti kemarin waktu saya tampil di Inggris. Di sana itu kalau orang orang kaya 'can nyumbang' (belum menyumbang) ka seniman 'can disebut beunghar'(belum disebut orang kaya). Nah di urang piraku perusahaan-perusahaan, da ieu warisan nu bisa dipertahankeun. Keunikan- keunikan nu aya di Bandung," katanya.

(ES/DR)
  1. Seniman
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA