1. BANDUNG
  2. HALO BANDUNG

Hebat! Dengan alat sederhana ini Simon bisa olah air hujan jadi air minum

"Sederhana sekali, airnya dipompa pakai pompa aquarium. Setelah lewat alat saringan nano filter 0,1 mikron itu masuk tabung ultravio," kata Simon

Alat sederhana buatan Simon untuk mengubah air hujan jadi air minum. ©2016 Merdeka.com Reporter : Dian Rosadi | Rabu, 06 Desember 2017 12:46

Merdeka.com, Bandung - Air hujan selama ini kerapkali 'disalahkan' sebagai salah satu penyebab banjir. Namun turunnya hujan justru membawa berkah tersendiri bagi Simon Sanjaya (53).

Lewat alat yang dia ciptakan, warga Komplek Rajawali Plaza, Ciroyom, Kota Bandung, ini mampu mengolah air hujan menjadi air siap minum. Lewat tangan terampilnya, lulusan Teknologi Pangan Universitas Pasundan ini menciptakan alat pengolah air hujan menjadi air minum ini secara mandiri.

Simon menceritakan, ide untuk menciptakan alat pengolah air hujan ini telah ada sejak 5 tahun lalu. Ide untuk menciptakan alat tersebut muncul, lantaran air yang biasa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari di rumahnya di kawasan Ciroyon tidak bisa digunakan untuk minum lantaran warnanya keruh.

"Dari situlah kemudian muncul ide itu. Karena air yang biasa digunakan di rumah saya di Ciroyom itu warnanya keruh. Sehingga tidak bisa digunakan untuk minun," ujar Simon saat berbincang dengan Merdeka Bandung di kawasan PHH Mustofa, Selasa (5/12).

Air hujan dipilih sebagai sumber air lantaran dari hasil penelitiannya angka menunjukkan TDS (Total Dissolve Solid) berkisar di angka 9 - 100. TDS sendiri merupakan sebutan untuk mewakili jumlah kandungan zat yang terlarut dalam air. Angka ini berbeda jauh dengan sumber air dari sumur yang memiliki kisaran sebesar 500-1000.

Bahkan, lebih jauh lagi sumber air dari sungai yang berada di kisaran angka ribu-ribuan. Artinya semakin tinggi angka, semakin banyak zat kotaminan yang terlarut dalam air.

"Jadi air hujan sendiri sudah bening, TDS nya hanya 9 - 100. Beda jauh dengan air sumur yang berkisar di angka 500 -1000 atau bahkan air sungai, itu ribu ribu TDS nya. Jadi prosesnya mengolah juga susah," kata Simon.

Simon mengungkapkan, cara untuk mengolah air hujan menjadi air minum ini sangat sederhana. Dirinya mengaku menyimpan beberapa tampungan air, sehingga ketika hujan turun air tersebut tertampung di tempat penampungan air. Begitu pula ketika hujan tidak turun, dirinya memiliki cadangan air.

Untuk alatnya sendiri kata Simon terdiri dari nano filter 0,1 mikron; alat pompa air dan tabung ultraviolet. Mula-mula air hujan yang sudah ditampung dibiarkan keluar hingga sekitar 10 menit. Hal ini untuk membuang endapan-endapan dan zat-zat kotor yang terkandung di dalamnya.

Setelah itu air kemudian dipompa ke dalam nano filter 0,1 mikron. Tujuannya untuk membunuh bakteri. Setelah itu air kembali dialirkan ke tabung ultraviolet untuk membunuh virus dan spora.

"Jadi sangat sederhana sekali, airnya dipompa pake pompa aquarium. Setelah lewat alat saringan nano filter 0,1 mikron itu masuk ke tabung ultraviolet untuk membunuh virus dan spora bakteri. Setelah itu langsung bisa diminum. Prosesnya sangat sederhana dan cepat. Mengolah air hujan jadi air minum 1 menit juga udah jadi," katanya.

Untuk membuktikan temuannya ini, Simon mengaku telah melakukan uji laboratorium terhadap air yang dihasilkan dari alat pengolah air hujan menjadi air siap minum ini di UPT Laboratorium Kesehatan milik Dinas Kesehatan Kota Bandung, Jalan Supratman pada Oktober lalu. Menurut Simon, hasilnya sangat menggembirakan, sebab uji kimiawi yang dilakukan terhadap air berada jauh di bawah ambang batas maksimal.

Dia mencontohkan seperti kadar Klorida sebesar 2,2 mg/L. Ini berada jauh dari kadar maksimal yang dibolehkan sebesar 250 mg/L. Kemudian kadar lainnya seperti Amonia sebesar 0,22 mg/L dari batas maksimal 1,5 mg/L. Belum lagi dengan bau, warna, kekeruhan yang berada di bawah angka maksimal serta jumlah zat padat terlarut sebesar 60 mg/L dari kadar maksimum 500 mg/L.

"Saya sudah membawa air minum yang sudah saya olah ke lab dinkes untuk diuji. Hasilnya menunjukkan bakterinya 0 artinya memenuhi syarat kesehatan juga kimiawinya memenuhi syarat kesehatan dan jauh di bawah dari batas yang dibolehkan," ungkapnya.

Adapun untuk komponen biaya pembuatan alat pengolah terebut yakni sebesar Rp 1,5 juta. Air dari hasil alat pengolahan ciptaannya tersebut hingga saat ini digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan jika berlebih air tersebut dibagi-bagikan kepada tetangga.

"Jadi karen lebihnya saya bagikan saja. Bahkan saya simpan satu galon di balai kota supaya siapapun bisa minum gratis," katanya.

(MT/DR)
  1. Industri Kreatif
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA