1. BANDUNG
  2. HALO BANDUNG

Benzodiazepine obat penenang yang paling banyak dibeli

Ketergantungan benzodiazepine kontroversi, satu sisi dibutuhkan untuk terapi kedokteran, sisi lain berpotensi menimbulkan ketergantungan.

Ilustrasi obat. ©2016 Merdeka.com Reporter : Astri Agustina | Senin, 03 Oktober 2016 13:57

Merdeka.com, Bandung - Benzodiazepine atau yang lebih dikenal dengan sebutan obat penenang adalah jenis psikotropika yang paling banyak diresepkan di dunia, termasuk di Indonesia. Di Amerika Serikat dan Canada dilaporkan setiap tahunnya melayani 100 juta resep benzodiazepine, 3 – 4 persen orang dewasa menggunakan benzodiazepine dan penggunaan yang bukan atas indikasi medikangkanya mencapai 1 persen.

Kemajuan iptek dan globalisasi informasi menuntut masyarakat beradaptasi. Bagi mereka yang tidak mampu beradaptasi dapat mengalami stress yang memerlukan benzodiazepine sebagai obat penenang.

Selain itu, tingginya angka pemakaian benzodiazepine karena banyak disalahgunakan, diperkirakan terbanyak dibandingkan zat yang lain. Benzodiazepine yang beredar di pasaran memiliki nama generik dan paten berbeda diazepam, alprazolam, clonazepam, estazolam, nitrazepam, lorazepam, clobazam, nimetazepam dan sebagainya. Masing-masing dibedakan berdasarkan sifat farmakokinetiknya.

Efek klinik benzodiazepine pada umumnya untuk mengatasi kecemasan dan kegelisahan, sedang efek lain yang menyebabkannya benzodiazepine disalahgunakan adalah efek eforia dan efek klinis yang tidak diharapkan adalah amnesia. Setelah menkonsumsi obat golongan benzodiazepine lupa semua yang dilakukannya termasuk melanggar hukum.

Benzodiazepin sering diresepkan secara tidak rasional dan tidak sesuai aturan, misal benzodiazepine untuk mengobati kecemasan ringan dan akut atau pemberian jangka panjang benzodiazepine untuk insomnia. Untuk kecemasan ringan dan akut sebenarnya cukup dengan konseling. Sedangkan penggunaan untuk kesulitan tidur dianjurkan tidak melebihi 4 sampai 6 minggu mencegah ketergantungan.

Penggunaan benzodiazepine pada lanjut usia dengan dosis tinggi dan waktu yang lama serta pemilihan jenis yang kurang tepat. Dapat menimbulkan risiko jatuh, kebingungan atau gangguan pernapasan.

Ketergantungan benzodiazepine masih kontroversi, satu sisi sangat dibutuhkan untuk terapi kedokteran (psikiatri, neurologi, anestesi, penyakit dalam, kardiovaskuler atau kebidanan). Namun di sisi lain berpotensi menimbulkan ketergantungan yang ditandai oleh peningkatan dosis. Jadi bila tidak ada penambahan dosis maka tidak ada ketergantungan benzodiazepin.

Meskipun demikian ahli adiksi sepakat bahwa potensi ketergantungan pada penggunaan benzodiazepine berhubungan dengan lama pemakaian. Semakin lama menggunakan semakin berisiko untuk ketergantungan. Pemakaian benzodiazepine bukan atas indikasi medis jumlahnya sudah mencapai tahap yang memprihatinkan. Bahkan telah menjadi tren baru di dunia termasuk Indonesia.

Kemajuan bidang kedokteran dan famakologi selalu akan diikuti dengan penemuan obat-obatan psikotropika baru atau modifikasi dengan efek farmakologis yang lebih kuat dan beragam, selain membuat menjadi lebih tenang juga menimbulkan eforia dan semangat. Penggabungan benzodiazepin dengan zat psikoaktif lain termasuk alkohol

(FF/AA)
  1. Info Kesehatan
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA