Cerita perusahaan kaset pita di zaman digital

user
Farah Fuadona 03 Oktober 2016, 11:28 WIB
untitled

Bandung.merdeka.com - Bisnis kaset pita tidak ada matinya. Bisnis ini seolah tak terpengaruh di zaman yang semakin digital, ketika musik mudah didapat dengan download di internet.

Creature Inside salah satu label lokal yang hingga kini masih memproduksi kaset pita. Perusahaan ini didirikan Sonnie Rinalda (30) di Bandung sejak 2004. Awalnya Sonnie memproduksi kaset band-band underground dan merchandise-nya.   

Namun kini Creature Inside melebarkan sayapnya untuk menggarap band-band pop indie. “Dulu kita identik metal. Sekarang lebih global dengan banyaknya grup band pop indie yang kualitas musiknya bagus. Makanya kita mengubah konsep dari metal underground ke global,” kata Sonnie Rinalda kepada Merdeka Bandung.

Musik band-band lokal yang sudah digarap Creature Inside dalam bentuk kaset pita antara lain The Colleagues, Bromocorah dan band sala Palembang R.O.H. “Sekarang kita masih terus nyari-nyari potensi band baru,” katanya.

Dalam sekali penggarapan band, Creature Inside memproduksi 100 kaset pita. Uniknya, meski menjual musik dalam bentuk fisik, namun pemasarannya memanfaatkan teknologi digital yakni lewat media social Twitter, Instagram maupun Facebook. “Kita manfaatkan online untuk pemasaran,” ujar alumnus Desain Komunikasi Visual Unikom Bandung ini seraya tersenyum.

Selain itu, ia menitipkan kaset produksinya maupun merchandise band ke tempat-tempat nongkrong komunitas di Bandung seperti Omuniuum Ciumbuleuit, Riotic Distro Bandung dan Pieces Ujungberung Bandung.

Ia mengaku, balik modal untuk bisnis kaset prosesnya lambat. Namun ia optimis bisnis kaset pitanya akan terus tumbuh seiring tumbuhnya kesadaran anti-download atau membajak.

Kesadaran tersebut terutama muncul di kalanagan anak muda yang merupakan pangsa pasar label-label lokal. Menurutnya, munculnya kesadaran menghargai karya terdorong event-event musik.

Baru-baru ini, Creature Inside mengikuti Festival Kaset Bandung yang diikuti puluhan kolektor/penjual kaset maupun label. Secara tidak langsung event ini menanamkan semangat menghargai karya orang lain.

Dengan memiliki produk musik secara fisik, yaitu kaset, cd ataupun piringan hitam, maka dia sudah menghargai musisi. Sehingga orang akan berpikir dua kali sebelum mendownload musik secara ilegal.

Dengan munculnya kesadaran itu, setahun belakangan ini di Bandung banyak muncul label-label lokal seperti Creature Inside. Fenomena ini tidak lepas dari tumbuhnya generasi yang menyenangi musik secara fisik. Ada permintaan dari pasar akan kaset pita.

Di sisi lain, tumbuhnya label-label lokal tidak lepas dari matinya label besar. Seperti diketahui, zaman internet membuat banyak perusahaan-perusahaan kaset besar gulung tikar. Bangkrutnya label-label besar membuat penggemar kaset kesulitan mencari rilis kaset baru. Kondisi ini dimanfaatkan label-label lokal yang memproduksi kaset skala kecil.

Perusahaan label lokal, menurut Sonnie, rata-rata menjiwai bisnisnya. “Yang punya lebel harus menikmati bisnisnya agar panjang umur. Kalau lihat dari segi bisnis saja, tanpa soul umurnya bakal pendek. Kalau saya sih suka dari dulu,” ujarnya.

Kecintaan pada karya musik membuat derasnya internet tidak begitu berpengaruh. Ia menyebutkan, hingga kini penjualan pemutar kaset atau tape, kaset, bahkan piringan hitam masih berjalan. “Bagi orang tertentu, mendengar musik lewat kaset dengan pemutar musik tape ada kepuasan tersendiri. Beda dengan mendengar CD, apalagi download,” kata pria yang mengoleksi 1000 kaset pita di rumahnya di kawasan Sukajadi, Bandung.

Kredit

Bagikan