1. BANDUNG
  2. GAYA HIDUP

Potensi digital ekonomi besar, startup harus bisa angkat potensi lokal

Mereka yang berminat dan sedang menjalani industri digital pun harus memiliki perubahan paradigma.

Channel Indigo. ©2016 Merdeka.com Reporter : Astri Agustina | Senin, 11 September 2017 13:25

Merdeka.com, Bandung - Potensi digital ekonomi Indonesia terbilang besar. Saat ini kurang lebih 13 miliar dolar, namun lima tahun ke depan berpotensi menjadi 130 miliar dolar. Angka tersebut tentu sangat fantastis. Ini sebuah potensi yang besar sekali khususnya bagi para startup, jangan sampai diambil orang lain.

Bagi mereka yang tengah menjalani bisnis secara digital, tentu harus dengan cermat memanfaatkan peluang tersebut. Kreativitas dan inovasi digital dibutuhkan untuk mengatasi berbagai persoalan lokal. Termasuk merangkul kearifan lokal, sehingga startup di Indonesia memiliki peluang luas.

Head of Marketing and International Channel Indigo PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk, R. Bayu Hartoko mengatakan, indigo.id yang merupakan inkubator dan akselerator startup berupaya menitikberatkan lima poin dalam inisiasi digital program inkubasi dan akselerasi start up ke depannya.

"Tentu saja salah satunya harus pandai mengangkat kearifan lokal. Selain ada lima kunci sukses lainnya yang bisa dilakukan oleh para startup. Kunci sukses itu diawali dengan orkestra digital," ujar Bayu kepada Merdeka Bandung, Minggu (10/9).

Lebih lanjut Bayu menjelaskan, ada proses sinergi serta saling melengkapi antara elemen industri digital satu dengan lainnya. Setelah itu, harus ada peningkatan kapabilitas internal di Indigo.id maupun mitra.

"Kemudian, optimalkan peluang sinergi yang ada, eksekusi seluruh program secara istimewa, serta tak berhenti mengembangkan ekosistem digital di tanah air," jelasnya.

Menurut dia, secara simultan, mereka yang berminat dan sedang menjalani industri digital pun harus memiliki perubahan paradigma dalam berkarya. Jika dulu belajar di sekolah sampai lulus kemudian bekerja sampai pensiun, maka kini proses bekerja dan belajar harus terus dilakukan bergiliran tanpa berhenti.

"Saat ini, pekerjaan sesulit apapun akan terasa mudah jika tidak dikerjakan. Artinya, pekerjaan yang mudah-mudah itu sudah tidak ada, maka stop komplain dan terus belajar dengan cerdas dan keras," sambungnya.

Bayu menambahkan, perubahan sikap mental itu juga diperlukan karena terjadi perubahan lingkungan. Terutama potensi ekonomi digital di Indonesia sangat besar dan penting dikembangkan, sebagaimana disampaikan Presiden Jokowi dalam banyak kesempatan.

"Dari jumlah penduduk saja, Indonesia itu 255 juta. Di bawahnya jauh jumlahnya, yakni Filipina 101 juta, Vietnam 94 juta, Thailand 65 juta, Myanmar 53,8 juta, Malaysia 30 juta, Kamboja 15,4 juta, Laos 6,9 juta, Singapura 5,5 juta, dan Brunei 0,43 juta," sambungnya.

Situasi ini, sambung Bayu, juga membuat Indigo.id banyak dihubungi inkubator di negara lainnya untuk sinergi dalam bentuk co-venture, co-partner atau start up exchange.

"Kita harus pilah pilih, mana yg strategis buat kita? Kalo asal terima exchange itu blm tentu kita untung, wong jumlah market kita 255 juta, dan Laos 6.9 juta, ya masa kita hanya dapatkan market segitu sementara mereka bisa dapatkan pasar Indonesia," katanya.

(FF/AA)
  1. Teknologi digital
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA